ISTRI IDAMAN SUAMI
Kamis, 24 Januari 08

Istri cantik, bukanlah satu-satunya kriteria bagi seorang mu’min yang
memiliki cita-cita untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa
rahmah. keshalihan sang istri merupakan kriteria utama dan didambakan
seorang lelaki di antara sekian banyak kriteria yang diinginkannya. Apalah
arti istri yang cantik, jika ia tidak taat kepada sang suami, suka
membuatnya jengkel dan sakit hati, tidak menyenangkan ketika berada di
dekatnya, tidak amanah, dan lain sebagainya. Tentunya keadaan seperti ini
dapat membuat sang suami merasa tak aman dan nyaman berlama-lama di dalam
rumah, bahkan boleh jadi rumah baginya laksana neraka. Beginilah konsekuensi
yang akan ditanggung oleh seorang lelaki, tatkala ia memutuskan
kecantikanlah sebagai kriteria utama dan segalanya dalam memilih partner
hidupnya, meskipun ia tidak memiliki keshalihan. Seorang istri demikianlah
yang memiliki potensi besar untuk tidak patuh kepada seorang suami,
menyeleweng, dan cenderung mengabaikan hak-haknya. Padahal hak seorang suami
atas seorang istri merupakan seagung-agungnya hak setelah hak Allah *subhanahu
wata’ala* dan RasulNya *shallallahu ‘alaihi wasallam*. Rasulullah *shallallahu
‘alaihi wasallam* bersabda, *”Kalau seandainya aku boleh menyuruh seorang
untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan menyuruh seorang istri untuk
sujud kepada suaminya.”* (HR. at-Tirmidzi. Dan ia berkata, *”Hasan Shahih.”*).

Maka perlu bagi seorang wanita, baik yang sudah menjadi seorang istri,
maupun yang akan menjadi seorang istri, untuk berusaha mencari tahu
kiat-kiat khusus yang harus dilaksanakan agar ia menjadi dambaan dan pujaan
para suami. Mudah-mudahan beberapa pesan dan nasehat di bawah ini bisa
menjadi kiat-kiat yang berharga bagi para wanita untuk mewujudkan impiannya,
menjadi idola dan idaman sang suami, serta untuk menggapai kebahagian yang
hakiki dalam mengarungi lautan kehidupan rumah tangga yang penuh dengan
liku-liku ini bersama suami tercinta. Kiat-kiat tersebut di antaranya
adalah:

Hendaklah seorang istri merasa cukup dan ridha dengan pemberian yang
sedikit dari sang suami. Tidak banyak menuntutnya, sehingga membuatnya
kecewa dan dapat menjerumuskannya untuk mencari nafkah dengan jalan dan cara
yang haram. Sungguh para wanita generasi Salafush-Shalih, apabila suaminya
hendak berangkat dari rumahnya untuk mencari nafkah, ia berkata kepadanya,
*”Jauhkanlah (wahai suamiku) mencari nafkah yang haram. Sesung-guhnya
kami mampu bersabar menahan lapar, akan tetapi kami tidak mampu bersabar
menahan panasnya api neraka!”*

Hendaklah seorang istri menjauhkan diri dari berbuat durhaka kepada
suaminya, meninggikan suara ketika berbicara kepadanya, dan selalu
mengeluhkan tentang suaminya kepada keluarganya. Nabi *shallallahu
‘alaihi wasallam* bersabda kepada seorang wanita, *”Bagaimana sikapmu
terhadap suamimu?! Sesungguhnya ia adalah surga dan nerakamu!”* (HR.
an-Nasa’i dan Ahmad, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Hendaklah seorang istri tidak meminta kepada suaminya seorang pembantu
wanita yang masih muda, karena hal itu dapat menjadi sebab sang suami
menceraikannya. Dan karena seorang pembantu wanita muda lebih berpotensi
mengundang fitnah dalam rumah tangga. Khususnya fitnah bagi sang suami.
Tidak sedikit kasus-kasus perselingkuhan terjadi di dalam rumah tangga
antara seorang suami dengan seorang pembantu wanita muda, karena seringnya
komunikasi, saling memandang dan berdua-duaan, tatkala sang istri tak ada di
rumah, dan lain sebagainya. Kemudian terjadilah perselisihan dan percekcokan
antara suami dan istri yang berakhir pada perceraian. Nabi *shallallahu
‘alaihi wasallam* bersabda, *”Tidaklah aku meninggalkan fitnah
sepeninggalanku ini bagi para lelaki yang lebih berbahaya, selain para
wanita.”* (Muttafaq ‘alaih). Nabi *shallallahu ‘alaihi wasallam* juga
bersabda, *”Janganlah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat
(berdua-duaan) dengan seorang wanita melainkan ada mahram
bersamanya,*lalu seorang lelaki berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah
*shallallahu ‘alaihi wasallam*, istriku hendak keluar menunaikan haji,
sedangkan namaku telah terdaftar untuk mengikuti perang ini dan itu. Nabi
*shallallahu ‘alaihi wasallam* bersabda,* “Pulanglah kamu! Dan
berhajilah bersama istrimu!”.* (Muttafaq ‘alaih). Dan Nabi *shallallahu
‘alaihi wasallam* juga bersabda, *”Barangsiapa yang beriman kepada
Allah dan hari Akhir, janganlah sekali-kali ia berkhalwat (berdua-duan)
dengan seorang wanita yang tidak ada mahram bersamanya, maka sungguh
ketiganya adalah syetan.”* (HR. Ahmad, dengan sanad yang shahih)

Hendaklah seorang istri mengetahui bahwa hak suami harus lebih
diutamakan dari semua hak kerabat/ keluarganya. Jika mendapatkan hak-hak
yang saling bertabrakan, maka ia harus tetap mengutamakan hak suami, dan
hendaklah ia mengabaikan yang lainnya.

Hendaklah seorang istri menjaga harta suaminya, tidak menggunakannya
tanpa sepengetahuannya. Jika ia bersedekah dari hartanya dengan idzinnya,
maka ia mendapatkan pahala seperti pahala suaminya. Jika ia bersedekah tanpa
ridhanya, maka suaminya mendapatkan pahala, sedangkan ia mendapatkan dosa.

Hendaklah seorang istri menghindar dari pergaulan dengan para tetangga
yang tidak baik, teman-teman yang buruk perangainya, yang dapat
mempe-ngaruhinya sehingga ia bersikap buruk terhadap suaminya, dan dapat
menjadi sebab terjadinya perselihan antara ia dengannya, serta dapat
merendahkan martabat dan harga diri suami di hadapannya.

Hendaklah seorang istri bersikap sabar atas perlakuan suaminya yang
kurang baik. Hendaklah ia bijaksana dalam menyikapinya tatkala sedang emosi,
niscaya suaminya akan memujinya pada waktu ia senang. Dan hendaklah ia juga
mengetahui, bahwa problematika dalam rumah tangga tidak akan menjadi besar
kecuali jika hal itu disikapi dengan keras kepala dan kesombongan. Maka
janganlah ia menghancurkan rumah tangganya dengan sikap keras kepala dan
kesombongan.

Hendaklah seorang istri memenuhi panggilan suaminya dalam situasi dan
kondisi apa pun. Nabi *shallallahu ‘alaihi wasallam* bersabda, *”Barangsiapa
mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu ia enggan, maka para malaikat
melaknatnya hingga pagi.”* (Muttafaq ‘alaih)

Hendaklah seorang istri tidak menyebutkan atau menceritakan
‘sifat’/keistimewaan wanita lain kepada suaminya. Karena Nabi *shallallahu
‘alaihi wasallam* melarang hal tersebut. Sebagaimana sabda *shallallahu
‘alaihi wasallam* beliau, *”Janganlah seorang wanita bergaul dengan
wanita lain, kemudian ia menceritakan wanita tersebut kepada suaminya,
seakan-akan suaminya melihatnya (wanita tersebut).”*(Muttafaq ‘alaih).

Hendaklah seorang istri mampu menjadi pemimpin di rumah suaminya dan
bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, dengan menyuruh mereka berbuat
baik, dan melarang mereka dari perbuatan yang mungkar (tidak baik). Serta
tidak meridhai jika ada sesuatu yang mungkar di rumahnya. Dan hendaklah ia
mengerti bahwasanya tidak ada ketaatan kepada satu makhlukpun dalam maksiat
kepada Allah *subhanahu wata’ala*. Nabi *shallallahu ‘alaihi
wasallam*bersabda,
*”cDan seorang wanita (Ibu) adalah pemimpin di rumah suaminya, dan
akan mem pertanggungjawabkan atas kepemimpinannya,c”*(HR. al-Bukhari
dan Muslim). Nabi *shallallahu ‘alaihi wasallam* juga bersabda, *”Apabila
salah seorang di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia
mencegahnya dengan tangannya, dan apabila ia tidak mampu, maka hendaklah ia
mencegahnya dengan lisannya, dan apabila tidak mampu juga, maka hendaklah ia
mencegahnya dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya
iman.”* (HR. Muslim, Abu Daud, an-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan
Ahmad). *Wallahu a’alam.*

*Dialihbahasakan dari buletin :
“Baaqotu wardin wa Nisrin, Muhdatun Likulli ‘Arusain”, Min al-Qism
al’Ilmy Bi Daril-Wathan.” (Oleh: Abu Nabiel)*