Bermeditasi Sebelum Belajar, Bisa Menambah Efektifitas Belajar

Penulis: Yang Qin

Baik kebudayaan timur maupun barat, keduanya bersikap positif terhadap meditasi
Diam/hening, bukan hanya semacam taraf kematangan dalam budi, lebih tepatnya ialah semacam kebijakan. Di depan sebuah problema, walau terancam bahaya tapi tidak panik, dengan sendirinya dapat menimbulkan kebijakan tak terhingga dan mengurai kondisi rumit; sedangkan dengan hati yang mengambang dan gugup, selain tidak dapat menyelesaikan problema, malah dapat membuat kekeliruan. Oleh karena itu pendidikan di Tiongkok kuno selalu dititik-beratkan pada “Xin / hati”, sebelum membaca buku harus terlebih dahulu tenangkan hati pusatkan jiwa, baru bisa berefek ganda. Maka itu, murid pada zaman dahulu, sebelum kelas dimulai dipentingkan bermeditasi, posisi duduk diperhatikan, menulis juga harus menyalurkan Qi dalam bernafas. Selain itu setiap macam bidang usaha diprioritaskan untuk menenangkan hati, mengatur pernafasan, maka dari itu seluruh masyarakat berada dalam ketentraman dan kedamaian.

Meditasi adalah kunci pembuka pintu “Hening”

”Di dalam konfusianisme diajarkan: “Barang siapa yang sesudah mengetahui akan mantap, setelah mantap baru bisa tenang, sesudah tenang bisa mempertimbangkan, sesudah merenung paling akhir dakan mendapatkan.” Diam/hening, membuat para pakar ajaran Konfusianisme memperoleh pencerahan dan menyelesaikan kultivasinya, membenahi keluarga, mengatur negara, dengan tujuan kehidupan yang adil. Dalam kitab ajaran Buddha disebutkan: “Dimulai dari Melepas lantas menjadi mantap, jikalau mantap pasti tumbuh Hui / kebijakan.”ialah menunjuk angan-angan dari dalam diri dan dengan demikian telah berharap, dalam bermeditasi tergantung daya Ding untuk menaikkan tingkat untuk terakhir tercapai kebijaksanaan besar. Hening, bisa membuat penganut buddhis mencapai 4 Zen dan 8 Samadhi, terbuka kebijakan dan kesadarannya. Disebutkan di dalam ajaran Dao bahwa: “Barang siapa yang dapat menangkal pikiran keruh, maka hening perlahan-lahan akan menjernihkannya; barang siapa dapat bertahan tenteram dalam waktu lama, maka perlahan-lahan motorik gerak akan muncul.” Jing, membuat penganut Dao mengkultivasi diri dan memasuki hening, agar mencapai jalan besar elixier emas. Dari sini diketahui bahwa aliran Khonghucu, Dao, Buddha, semuanya mementingkan hening untuk menciptakan kebijakan, lebih-lebih meditasi adalah sebuah kunci pembuka pintu “Hening”.

Bermeditasi bisa menaikkan IQ

Tak peduli kebudayaan timur ataupun iptek barat, meditasi dinilai positif. Amerika pernah mempublikasikan sebuah artikel yang mengenalkan meditasi di kalangan pebisnis dan memperoleh sambutan dan pengakuan. Dalam artikel itu disebutkan, hasil temuan dari balai penelitian kesehatan negara – universitas Massachussets dan balai penelitian psychology jiwa dan raga universitas Harvard, bahwa meditasi dapat menambah pergerakan otak besar, memperkuat daya perasa langsung, lebih dapat memusatkan konsentrasi.

Selain itu sesuai report Amerika tertanggal 15 November 2005, meditasi dapat menambah IQ dan memperbaiki susunan otak besar. Ini adalah kesimpulan yang diperoleh dari hasil test oleh sebuah kelompok peneliti universitas Kentucky-Amerika. Peneliti menyuruh 10 relawan mengikuti testing “Kesiagaan gerak psikologis”.

Relawan diminta memelototi monitor computer, asalkan melihat sebuah kemunculan sosok langsung tekan tombol. Sebelum test dimulai, para relawan ada yang disuruh melakukan meditasi, tidur sejenak, baca buku, atau mengobrol dengan orang lain, selama 40 menit. Biasanya, tidur kecil/sejenak selama 40 menit dianggap bisa meningkatkan kemampuan seseorang, tetapi harus menunggu setelah terbangun minimal satu jam baru bisa mencapai hal tersebut.

Meskipun sebagian besar relawan adalah untuk pertama kalinya menjajal meditasi, namun hasil penelitian membuktikan, hanya meditasi yang bisa membuat pikiran menjadi tajam dan dengan segera memasuki kondisi terbaik.

Bermeditasi memperbaiki susunan bagian otak
Sebuah kelompok penelitian lain dari rumah sakit pusat negara bagian Massachussets menggunakan Nuclear_magnetic_resonance, meneliti pengaruh yang dibawa oleh meditasi terhadap otak besar. Mereka menemukan dari hasil penelitian melalui 15 relawan yang berpengalaman 1 hingga 30 tahun bermeditasi dan 15 relawan yang tidak berpengalaman meditasi, meditasi telah menambah ketebalan pelapis kulit otak (prefrontal cortex)di depan lobe, terutama wilayah otak yang mengendalikan konsentrasi dan kemampuan perasa manusia.

Penelitian sebelumnya juga menunjukkan, sebagian wilayah prefrontal cortex dari pakar musik tersohor, atlet dan pakar bahasa juga agak tebal.

Selain itu, juga melaporkan, hasil pendeteksian oleh kelompok peneliti University of Wisconsin at Madison melalui scans bagian otak menemukan, di sebagian wilayah otak-besarnya kaum penganut Buddha, misalkan sifat optimis, daya pengendali dan karakter dll, ternyata betul-betul tidak sama dengan orang-orang kebanyakan. Bermeditasi nyata-nyata dapat membuat mereka berubah menjadi bahagia, tenang, lebih optimis dan tenteram. Walau pada saat mereka tidak sedang melakukan meditasi, penelitian analisa semacam itu juga bisa memperoleh hasil yang mirip. Tak diragukan lagi hal ini menunjukkan, bermeditasi dapat menimbulkan perubahan besar terhadap spirit seseorang.